Dalieh Iskandar: Terpuruk Kehilangan Kaki, Bangkit Karena Si Kecil Anaknya



Pagi masih buta dan matahari belum keluar. Kira-kira waktu baru menunjukkan pukul 04.00 WIB. Sepagi itu, di 2015, Dalieh Iskandar, sudah keluar dari rumah dengan membawa motor untuk berangkat menuju tempat kerja. Tapi, baru sekitar 10 menit keluar dari rumah, sebuah mobil yang nyasar tiba-tiba menabraknya.

Dalieh tidak sadarkan diri usai peristiwa kecelakaan itu. Dalieh dibawa ke rumah sakit terdekat oleh orang-orang yang menolongnya. Entah, siapa yang mengabari keluarganya, mereka kemudian datang ke rumah sakit. Bahkan, saat dokter memutuskan untuk mengamputasi salah satu kaki Dalieh dan atas persetujuan keluarganya, lelaki yang sudah beristri dan beranak satu ini masih dalam kondisi tidak sadarkan diri.

Sehari sehabis operasi, Dalieh baru bisa sadarkan diri. Waktu itu, semua keluarga berkumpul di dekatnya. Dalieh belum mengetahui kaki kanannya yang telah diamputasi karena tertutup selimut. Hampir satu jam lebih, dokter yang mengamputasi belum juga datang untuk menemuinya.

Pada saat itulah, ia merasa ada yang aneh dengan keadaan kakinya yang tidak boleh dibuka oleh ayahnya. Bahkan, saat hal itu ditanyakan pada ayahnya, lelaki itu tidak menjawab dan malah meneteskan air mata.

Dalieh akhirnya membuka selimut itu sendiri. Dan, tanpa sadar, ia seperti tidak terima dengan apa yang terjadi saat mengetahui kakinya telah tinggal sebelah. Dalieh pun menangis dan menangis atas hilangnya sebelah kakinya tersebut. Seminggu lebih berada di rumah sakit, yang diisi dengan kesedihan, ia akhirnya boleh pulang.

Di rumah, Dalieh banyak mendapatkan suport dari kawan dan keluarganya. Tapi, ia tidak bisa terima begitu saja. Menurut Dalieh, enak saja mereka ngomong begitu sebab bukan mereka yang merasakan sendiri.

Dalieh kemudian meminta ayahnya untuk membelikan kursi roda biar bisa keluar dari kamar. Saat sudah pakai kursi roda itulah ia mendapatkan tawaran dari seseorang yang bersedia membuatkan kaki palsu, tapi Dalieh belum menerimanya, sebab memakai kaki palsu menurutnya sakit sekali.

Pertemuannya dengan seseorang yang menawari kaki palsu itu membekas di pikiran Dalieh. Setelah merenung dan berpikir, Dalieh berniat memakai kaki palsu. Ia kemudian pergi dari Pasuruan ke sebuah rumah sakit di Surabaya. Oleh dokter yang memeriksanya, Dalieh dikatakan belum bisa memakai kaki palsu dan harus menunggu sampai 6 bulan.

Belum sembuh mentalnya akibat kehilangan kaki, Dalieh kembali mendapatkan cobaan yang tak kalah beratnya. Istrinya meminta berpisah dengannya. Bahkan, saat perpisahan itu tidak bisa ditolaknya, Dalieh juga harus perpisah dengan buah hatinya, Princess Azzalea Iskandar, putri semata wayangnya. Perpisahan itu diduga dilatarbelakangi keadaan Dalieh yang tidak lagi utuh kakinya.

Berpisah dengan mantan istri, Dalieh masih bisa terima. Tapi berpisah dengan anaknya, Dalieh mengaku tidak bisa. Karena itu, jika ia sedang rindu ia mencuri-curi pandang melihatnya dari kejauhan saja.

Suatu saat, kakak sepupunya bercerita jika ada temannya yang habis diamputasi dan bisa memakai kaki palsu. Dalieh penasaran dan ingin bertemu dengan lelaki pemakai kaki palsu yang bernama Mas Arief itu. Dari Mas Arief inilah Dalieh ditunjukkan ke Pak Sugeng, yang ahli membuat kaki palsu asal Mojosari, Mojokerto.

Bersama Arief, Dalieh akhirnya menuju Mojosari untuk bertemu dengan Komendan Kapal. Pertemuannya dengan Arief dan Komendan Sugeng semakin membuat Dalieh ingin cepat bangkit dari keterpurukannya.

“Si kecil anak saya, Princess Azzalea Iskandar yang membuat saya tidak ingin berlama terpuruk. Saya tidak ingin anak saya menganggap Bapaknya lemah, putus asa, dan tidak bisa mandiri karena kehilangan sebelah kaki,” ujar Dalieh.
Sebulan setelah memakai kaki palsu buatan Sugeng, Dalieh mulai terbiasa. Ia kembali bekerja. Sambil bekerja, ia pun masih kuliah S1 jurusan Teknik Industri. Tiga tahun setelah hidup sendiri, Dalieh kembali dipertemukan dengan wanita yang mau menerima keadaannya, yaitu Siti Alfiyah. Selang 8 bulan setelah mereka berkenalan, mereka akhirnya menjadi suami istri pada 2018 belum lama ini.

Bersama sang istri, Dalieh mengaku tengah membangun mimpi yang indah. Kuliah, bekerja, dan berswasta itulah yang tengah dilakukannya. Untuk kawan-kawan disabilitas, Dalieh punya motto, tidak ada yang tidak bisa untuk diraih jika terus berjuang. “Kekuranganku adalah kelebihanku,” pungkasnya. (naskah dan foto rudianto ganis )

One Comment

Post Comment