Samadi Van Jawa, Pemakai Kaki Palsu yang Menjadi Raja Jalanan



Kehilangan kaki kirinya akibat kecelakaan, sempat membuat Samadi putus asa dan rasanya lebih baik mati saja pada waktu itu. Ia sempat berpikir akan menjadi orang yang tidak berguna, lebih-lebih untuk istri dan anaknya. Selama satu setengah tahun, setelah kecelakaan dengan truk yang dikemudikannya, Samadi harus istirahat total.

“Saya terpaksa menjalani beberapa kali operasi sebab ada yang tidak beres, sampai akhirnya benar-benar kering,” ucap Samadi saat ngobrol santai di sebuah warung kopi di daerah Mojosari, Mojokerto, sambil menunggu truknya bongkar muatan di sebuah pabrik.

Samadi Van Jawa, begitu lelaki beranak satu ini menambahi nama belakangnya. Ia bercerita bahwa belum kering total luka di kakinya, ia mendengar ada bantuan kaki palsu. Tak menyia-nyiakan kesempatan, ia pun mendaftarkan diri sampai akhirnya memperoleh kaki palsu. Sedikit demi sedikit, Samadi mulai terbiasa dengan kaki palsu. Saat ada program 1.000 Kaki Palsu, yang diadakan Kick Andy Foundation, bersama Sugeng Kaki Palsu, Samadi juga mendapatkannya.

Lama menjadi pengangguran, Samadi akhirnya mencoba mencari pekerjaan. Ia kemudian diterima bekerja di sebuah bengkel, yang pemiliknya kasihan kepadanya. Dari gaji 40 ribu rupiah sehari, Samadi lama-lama mendapatkan gaji sampai 200 ribu dalam sehari. Tapi bengkel itu bangkrut usai pemiliknya meninggal dan tidak ada penerusnya.

Samadi kembali menjadi pengangguran. Sampai akhirnya ia bertemu dengan seorang kawannya yang punya kenalan pemilik mobil-mobil truk dan sedang butuh sopir. Samadi diajak menemui pemilik mobil-mobil truk besar tersebut. Samadi tidak banyak bicara dan hanya menurut saja pada kawan yang mengantarnya.

“Saya diterima bekerja di situ dan dipercaya mengemudikan sebuah truk besar yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan. Dulu saya sopir truk kecil saja. Tapi, pemiliknya rupanya tak mau tahu saya pemakai kaki palsu atau tidak, yang penting truknya ada yang mengemudikan dan ada pemasukan,” ujar lelaki kelahiran Kudus, 4 Maret 1975 ini.

Besoknya, Samadi kembali lagi untuk mengambil truk dengan diantar kawannya. Gilanya, kawan itu langsung pulang dan meninggalkan Samadi sendirian dengan truk besar yang sama sekali tidak dikenal seluk beluknya.

“Saya menyalakan mesin truk. Sempat kikuk, bingung, dan keringatan di seluruh badan. Bahkan ketika saya harus keluar dari garasi yang jalannya sempit, tidak ada orang yang mengawal. Modalnya hanya nekad dan berhati-hati,” ujar Samadi.

Belum terlalu mahir mengemudi truk besar, Samadi langsung dapat muatan tujuan Palembang. Order itu pun diterimanya. Didampingi seorang kenek yang lebih tepat sebagai kawan berbicara saja, mereka menuju Palembang dengan muatan yang penuh dan cukup tinggi.

“Saya hanya mengucap bismillah, dan tidak tahu nanti dapat muatan atau tidak waktu baliknya. Dan, alhamdulillah baliknya truk dapat muatan dan tidak kosong,” kisah Samadi.

Kini, Samadi sudah menjadi raja jalanan dengan truk besarnya. Daerah jelajahnya bisa sangat jauh, meliputi Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Banyuwangi, Bali, NTT, dan NTB. “Saya tidak pakai kenek, ya karena saya masih mampu melakukan sendiri. Kalau pakai kenek terkadang rikuh, sebab kemampuan dan daya tahan orang kan berbeda-beda. Saya bisa saja terbiasa makan dua kali sehari, bagaimana kalau bertemu kenek yang tidak tahan lapar, kan kasihan dia,” ucapnya lelaki yang tinggal di Desa Hadipolo RT 05 RW 03, Kecamatan Jekulo, Kudus ini sambil bergurau. (naskah dan foto : rudianto ganis)

Post Comment